Keuskupan Agung Pontianak

Instarare Omnia in Christo

Mewartakan Karya Tuhan Melalui Tulisan dan Audio Visual

Suasana Misa Pembukaan Pagi Kamis 30 Mei 2019

Di Paroki Santa Perawan Maria Makale, Toraja

Hari kedua di tanah Toraja, dimulai dengan Misa pembukaan yang dipimpin olah RD. Kamilus Pantus, bersama 22 Imam dan satu Diakon dari setiap utusan Komsos Keuskupan Indonesia maupun imam paroki di Paroki Santa Perawan Maria Makale. Dalam misa pembukaan RD. Kamilus Pantus menjelaskan mengenai maksud dan tujuan dari PKSN yang ke- 6 di Tanah Toraja ini. “PKSN yang ke 6 ini merupakan sebuah agenda tahunan dan kebetulan tahun ini merupakan tahun yang ke-6 kami mengadakannya di Tahan Toraja,” ujarnya.

“PKSN itu adalah Pekan Komunikasi Nasional yang dilaksanakan oleh orang-orang komunikasi dari setiap Keuskupan. Jadi setiap keuskupan mempunyai orang-orang komunikasi sendiri. Wajar saat kami datang denganciri khasnya yaitu kamera-kamera yang bapak dan ibu lihat dalam gereja ini,” katanya.

RD. Kamilus Pantus (Sekjen Komsos KWI)

“Kesempatan ini merupakan kesempatan untuk kami bergawai alias merayakan pesta hari komunikasi se-dunia yang akan kita peringati pada hari minggu nanti. Dalam menjelang hari puncak itu, maka kami pengurus Komsos KWI merancang ini bersama selama sepekan yaitu dari senin sampai hari puncak perayaan hari komunikasi itu, maka kami sebut acara ini dengan Pekan  Komunikasi Nasional” tambah RD. Kamilus Pantus.

Usai misa kemudian dilanjutkan dengan Workshop Menulis Kreatif (Feratur & Essay) dengan Tema : Menulis Kreatif untuk Sesama yang dibawa oleh Budi Sutedjo (Visi Penulis Kreatif), R.B.E. Agung Noegroho (Penulisan Berita I & II), A. Margana ( Penulisan Feature I & II) yang dilaksanakan di Aula Paroki Makale.

Dalam diskusi chatting  bersama R.B.E. Agung Noegroho bersama Komsos.KAP malam tanggal 30 Mei 2019 itu. Ia mengatakan bahwa “yang paling penting dalam menulis adalah proses dari sebuah tulisan itu, bukan terletak pada hasil akhirnya. Dalam menulis tidak ada istilah seneor maupun pemula, semua sama yaitu harus melewati proses yang sama dalam menulis,” ujarnya.

Romo Murti, SJ (suasana tengah memberikan seminar)

Selaras dengan hal itu, saat berdiskusi bersama Bapak Budi Sutedjo juga mengutarakan kata yang sama yaitu “kita mesti tahu apa yang mau kita tulis, dari visi dan niat kita itulah menjadi patokan kita dalam melakukan kegiatan menulis. Menulis juga harus punya trik-trik, agar apa yang kita tulis itu meskipun satu paragraf namun sarat maknanya,” katanya.

Selain pelatihan menulis kreatif, ada juga Workshop Audiovisual dengan tema : Menjadi Praktisi Film yang Cerdas yang dibawakan oleh Rm. Murti, SJ dari SAV Puskat bersama Timnya (Prinsip Dasar Sinematografi, Kamera dan Bahasa Kamera dan Laihan Edit), dan untuk narasumber selanjutnya masih dalam Audiovisual yaitu Rm. Agoeng Nugroho dengan materi menulis naskah untuk film dan berita. Acara ini dilaksanakan di tempat Asrama Putra Makale.

Dalam Wordshopnya, Rm Murti, SJ mengatakan bahwa “yang paling penting adalah ada logika dari Video yang dibuat. Realitas Film adalah realitas dari dunia nyata,” ujarnya.

Suasana dalam seminar Audio Visual

“Mengapa orang menonton bisa sampai menangis? Itu karena selain pandai mengambil berita yang paling penting adalah logika dari cerita dan filmlah yang membuat orang menangis. Peradegan film tentu yang paling penting yaitu logika cerita. Apapun yang diproduksi baik itu dokumenter maupun film harus ada logika yang berkelanjutan,” katanya.

Editing intinya yaitu menyambung gambar dari apa yang didapat. Dalam syuting jangan cepat puas, maka dalam sebuah syuting sering terjadi pengulangan. Biasanya gambar terakhir yang diambil dari pengambilan gambar.

“kamera itu sebetulnya adalah kamera cahaya, fotography sebenarnya yaitu melukis dengan cahaya. Yang paling penting dalam keahlian dalam fotographty yaitu permainan trilgo yaitu antara lain, Iso (Asa) mengatur sensifitas cahaya, Diafragma – F.Stop dan Shuteer Speed,”katanya.

Sama halnya dengan apa yang dijelaskan oleh, Romo Murti, SJ terkait Audio Visual, sekarang RD. Agoeng juga mengatakan bahwa “dalam setiap flim pendek maupun dokumenter yang kita rancang dan yang akan kita lakukan, harus ada batasan-batasannya yaitu premis. Premis inilah yang akan menjadi patokan alias rujukan kita dalam melakukan kegiatan pengambilan gambar alias syuting nantinya saat berada dilapangan,” katanya.

Ternyata keasikan dalam mengikuti dua workshop ini tidak terasa waktu sudah berlalu begitu cepat. Oleh karena itu, workshop untuk hari pertama pada tanggal 30 Mei ini dilanjutkan pada hari kedua Jumat 31 Mei 2019.– Semz_ KomsosKAP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *