Uskup Agus Hadiri Even Budaya Gawia Sowa Dayak Bidayuh Jagoi Babang
Sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan terhadap budaya yang hidup di tengah-tengah umat, tanggal 3 Juni 2019 lalu, Uskup Agustinus Agus memenuhi undangan dari Panitia untuk hadir dalam even budaya Gawia Sowa Dayak Bidayuh Jagoi Babang.

Uskup Agus menaiki “tangga seribu” untuk sampai di lokasi Gawai
“Sejak gawai tahun lalu panitia sudah mengundang saya untuk hadir. Baru tahun ini saya dapat memenuhi undangan dari panitia,” ujar Uskup Agus.
Kedatangan Uskup Agus disambut hangat oleh panitia. Panitia juga memasang spanduk dalam Bahasa Bidayuh yang bertuliskan :

Boli Bipokat Dayak Bidayuh yang berbentuk Balug
“Silamat Nog Tudu Yang Mulia Uskup Agung Pontianak Beserta Rombongan. Doang Acara Gawia Sowa Dayak Bidayuh Jagoi. Dek Kupuak Jagoi Babang”.
Uskup Agus mengatakan tradisi adat istiadat haruslah terus dipertahankan, sebab dengan adat istiadat itulah ciri khas orang Dayak tetap ada.

Dayak Sebujit ikut dalam Gawia Sowa
Acara gawia Sowa dipusatkan di lokasi Boli Bipokat (rumah musyawarah) yang berada di atas bukit. Untuk mencapai lokasi, terlebih dahulu menaiki tangga yang disebut ‘tangga seribu’ oleh masyarakat setempat. Meski demikian Gawia Sowa ini tetap diikuti dengan antusias oleh segenap tamu undangan, termasuk juga Uskup Agus. Bahkan Uskup Agus sempat ikut menari dalam Tarian Sigal Bilama’k bersama undangan lainnya.
Gawai ini sudah menjadi agenda rutin masyarakat dayak setempat dan sudah masuk dalam kalender pariwisata pemerintahan Kabupaten Bengkayang yang dilaksanakan setiap tanggal 1-3 Juni.

Uskup Agus ikut menari dalam tarian Sigal Bilama’k bersama undangan lainnya
Gawia Sowa ini dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat kepada sang pencipta atas hasil panen selama proses berladang sekaligus sebagai ucapan rasa syukur bahwa kampung jauh dari musibah seperti penyakit dan bencana alam.
Selain ucapan syukur, makna Ritual Gawia Sowa juga memberi sesajian atau persembahan pada benda pusaka yang disimpan dirumah adat yang disebut “Sigal Paad Sadih”.

Uskup Agus dalam tarian Sigal Bilama’k
Atraksi Gawia Sowa oleh masyarakat Dayak perbatasan Desa Jagoi, Kecamatan Jagoi Babang, Kabupaten Bengkayang, merupakan aktivitas tahunan. Event ini melibatkan kaum Dayak Negara Serawak – Malaysia.
Seperti diketahui, Bengkayang berbatasan langsung dengan Malaysia – Serawak. Maka masyarakat di perbatasan khususnya Suku Dayak memiliki rumpun suku yang sama dengan masyarakat Negara Malaysia – Serawak.

Uskup Agus mendapat Cendera Mata dari Panitia
Ada beberapa rumpun Suku Dayak yang memiliki hubungan kekerabatan antar dua negara di perbatasan Indonesia – Sarawak ini. Antara lain Suku Dayak Bidayuh, Suku Dayak Bakati Lara, Suku Dayak Iban dan Suku Dayak Kanayant. Dari beberapa Suku Dayak tersebut, dan Suku Dayak Bidayuh.

Uskup Agus berfoto bersama penari dari Suba Buan – Bauk Malaysia
Mereka memiliki hubungan kekerabatan yang sangat kental. Hal ini secara historis dan diakui bersama bahwa situs nenek moyang (leluhur) Suku Dayak Bidayuh berasal dan berada di wilayah Indonesia.

OMK dan Pastor Paroki berfoto bersama Uskup Agus di Pastoran Jagoi Babang
Ada sejumlah kegiatan dalam Gawia Sowa. Di antaranya, Ritual Adat Sigal Paad Sadih, Parade Tari Peserta Seni dari Sarawak Malaysia, Parade Tari Peserta Seni dari Indonesia, Tarian Sigal Bilama’k bersama tamu undangan, dan aneka hiburan.
Masyarakat berharap even budaya Gawia Sowa Dayak Bidayuh Jagoi Babang ini dapat terus diadakan di tahun-tahun berikutnya.
PM