Keuskupan Agung Pontianak

Instarare Omnia in Christo

Paus Minta Uskup Indonesia Terapkan Deklarasi Persaudaraan Abu Dhabi di Tataran Akar Rumput

Permintaan untuk menerapkan Deklarasi Persaudaraan Abu Dhabi disampaikan Paus Fransiskus saat bertemu dengan 36 Uskup Indonesia dalam pertemuan Ad Limina, Selasa (11/6/2019) lalu.

Hal itu diungkapkan oleh Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Mgr. Ignatius Suharya, yang sekaligus menjadi pemimpin delegasi uskup Indonesia saat pertemuan dengan Paus, seperti yang redaksi Komsos KAP lansir dari halaman situs Voice of America : https://www.voaindonesia.com/

Paus Fransiskus dan Imam Besar Al Azhar Syeikh Ahmed Al Tayeb usai menandatangani deklarasi bersama untuk memerangi ekstremisme di Abu Dhabi, UEA (4/12).

Dalam wawancara melalui telepon pada Jumat pagi (14/6/2019) itu, Mgr. Ignatius Suharya mengatakan, selama lebih dari dua jam Paus Fransiskus berdialog dengan uskup-uskup Indonesia. Pertemuan dan diskusi berlangsung sangat intensif. Dalam pertemuan itu dibicarakan juga soal bangaimana memperkuat hubungan dengan pemimpin dan umat beragama lain. Hadir dalam pertemuan itu sejumlah pimpinan lembaga dalam struktur Takhta Suci Vatikan.

“Salah satu hal yang Paus tekankan adalah dokumen Abu Dhabi yang ditandatanganinya awal Februari lalu bersama Imam Besar Al Azhar. Dokumen itu mendapat tanggapan sangat baik juga dari para pemimpin umat Muslim. Kami diminta Paus menggunakan naskah itu untuk menyampaikan pada umat di tataran akar rumput agar dapat diterapkan,” ungkapnya.

Berfoto bersama dengan Paus Fransiskus (courtesy Mgr. Agustinus Agus)

Dengan bergandengan tangan Paus Fransiskus dan Imam Besar Al Azhar Syeikh Ahmed Al Tayeb menandatangani deklarasi bersejarah yang mengatasnamakan seluruh korban perang, persekusi dan ketidakadilan di dunia itu pada awal Februari lalu di Abu Dhabi.

Deklarasi persaudaraan itu menegaskan komitmen Al Azhar dan Vatikan untuk bekerjasama memerangi ekstremisme.

“Kami dengan tegas menyatakan agama tidak boleh digunakan untuk menghasut terjadinya perang, kebencian, permusuhan dan ekstremisme, juga untuk memicu aksi kekerasan atau pertumpahan darah.”

Bagian penting dokumen itu mendorong semua pihak untuk “menahan diri menggunakan nama Tuhan untuk membenarkan tindakan pembunuhan, pengasingan, terorisme dan penindasan.

Penyambutan terhadap 36 Uskup pada acara pertemuan dengan Paus Fransiskus di Vatikan (courtesy Mgr. Ignatius Suharya/VOA Indonesia)

“Kami meminta ini berdasarkan kepercayaan kami bersama pada Tuhan, yang tidak menciptakan manusia untuk dibunuh atau berperang satu sama lain, tidak untuk disiksa atau dihina dalam kehidupan dan keadaan mereka. Tuhan, Yang Maha Besar, tidak perlu dibela oleh siapa pun dan tidak ingin nama-Nya digunakan untuk meneror orang.”

Menutup pembicaraan dengan VOA, Mgr. Ignatius Suharya Mengatakan KWI berencana akan menindaklanjuti lawatan ini dan sekaligus mengupas deklarasi persaudaraan yang disepakati pemimpin tertinggi Gereja Katolik Paus Fransiskus dan Imam Besar Al Azhar Syeikh Ahmed Al Tayeb ini dalam pertemuan khusus di Bandung, awal November nanti.

(PM/berdasarkan laporan em/VOA Indonesia)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *