Mon. Oct 14th, 2019

Keuskupan Agung Pontianak

Instarare Omnia in Christo

Kaum Muda dan Bahaya Narkoba


Di tengah perkembangan dunia moderen Jaman Now, bahaya narkotika sudah menjadi jarahan orang muda yang ‘kehilangan arah.’ Mengapa bisa dikatakan demikian? Sudah begitu banyak contoh-contoh kasus yang menggelitik fakta yang sudah terjadi. AKBP Wayan Korna merupakan narasumber yang dipanggil khusus untuk memberikan seminar terkait “ Kaum Muda dan Bahaya Narkoba.” Ia mengatakan bahwa kasus-kasus yang paling banyak masuk Lembaga Permasyarakatan alias Lapas ini adalah 60% orang-orang yang berkaitan dengan narkotika.


Tepat pada pukul 14.45 WIB lanjut sesi ke 3 dengan moderator yang dibawa oleh Rm. Brendan, CSE yang berpusat dipanggung utama acara Homkkap2 di Pusat Kerohanian Santi Buana Bandol yang dilanksanakan dari tanggal 9-12 Juli 2019.

AKBP Wayan Korna merupakan narasumber yang dipanggil khusus untuk memberikan seminar terkait “ Kaum Muda dan Bahaya Narkoba.”


“Setelah Kolombia, Indonesia adalah urutan ke tiga terbesar dalam menggunakan narkoba. Yang banyak beredar di kita yaitu sabu, kalau di China itu hanya 25 ribu, kalau ini dijul di Indonesia berharga 2,5 Juta. Kalau ada kawan yang sudah terkena narkoba, haruslah lebih berhati-hati. Makanya, berteman dengan siapapun tetap boleh, hanya kita harus lebih berhati-hati untuk bergaul dengan kawan-kawan yang dekat dengan kita,”ujarnya.


Begitu bahayanya narkotika menjadi kejahatan mental yang harus dihindari oleh kaum millenial sekarang. Kenapa demikian? AKBP Wayan Korna menjelaskan bahwa jika seorang sudah terkena narkotika maka hidup itu sama saja seperti hidup dalam mimpi. Dengan kata lain, seseorang hidup tapi hanya dalam halusinasi saja.


“Dalam keadaan ini, biasanya orang yang sudah kecanduan akan merasa melayang, dan orang yang sudah masuk dalam halusinasi akan merasa bahwa mereka akan tetap enjoy saja dengan apa yang ia rasakan. Maka kalau orang sudah masuk dalam halusinasi, maka orang akan merasa lebih santai saja,”ujarnya.


“Indonesia sekarang kesulitan mengatasi masuknya narkotika di Indonesia, karena penyelundup banyak dan menggunakan cara yang tidak diketahui oleh pemerintah. Orang yang sudah terkena Narkoba itu sangatlah berat, karena untuk kembali normalisasikan orang yang sudah terkena narkotika,” katanya.


Pak Wayan menjelaskan bahwa kesenangan narkotika hanya menghayal saja, “jadi kalau kita hidup ya santai-santai aja. Artinya hidup ini yang normal-normal saja, katanya seraya menutup sesi.
Momen ini diukir lagi dengan pemberikan tanda cendramata dari KOMKEP-KAP yang diserahkan oleh Uskup Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus dan sekaligus diberikan kenangan buku Biografi Uskup Agus dengan harapan mudah-mudahan menjadi motivasi dan inspirasi.


“Saya juga mengundang orang muda yang sebelumnya bertanya dalam sesi saya (Mgr. Agus) tadi, untuk maju kedepan, untuk menerima buku Biografi saya. Semoga buku ini menjadi Inspirasi bagi anda sekalian. Dan jangan pernah minder menjadi orang kampung, buktikan bahwa kita bisa. Karena setiap orang punya kelebihan dan kelemahannya masing-masing,” kata Mgr. Agus.


“Terkait dengan Narkoba, jika anda tahu bahwa sahabat, kerapat dan teman anda terlibat dalam narkotika, maka segeralah lapor kepada yang berwajib. Karena melalui mereka kita bisa menyelamatkan mereka. Jangan takut, selagi kita punya niat yang baik,” tambahnya.- Semz_KomsosKAP

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2019 Keuskupan Agung Pontianak