Tue. Nov 19th, 2019

Keuskupan Agung Pontianak

Instarare Omnia in Christo

Pawai Karnaval Ekologi Semarakan BKSN 2019 di Paroki St. Fransiskus Assisi Singkawang

BULAN Kitab Suci Nasional (BKSN) merupakan momen khusus bagi umat Katolik untuk merenungkan Sabda Tuhan dalam Kitab Suci dan mewujudkannya  dalam tindakan nyata.

Biasanya dibeberpa tempat perayaan Bulan Kitab Suci disambut dengan meriah dengan ragam kegiatan, perlombaan, pendalaman iman, seminar dan sebagainya.

Kemeriahan dalam rangka menyambut perayaan BKSN ini juga terjadi di Paroki St. Fransiskus Assisi Singkawang Keuskupan Agung Pontianak.

Pejabat lokal

Namun pembukaan BKSN di Kota Seribu Klenteng yang diawali dengan pawai karnaval ekologi ini menjadi lebih istimewa karena dihadiri oleh Walikota Singkawang, Tjhai Chui Mie, S.E, MH didampingi oleh Kapolres Singkawang, AKBP Raymond M Masengi, beserta para pejabat lainnya.

Tjhai Chui Mie didaulat secara resmi untuk melepas peserta pawai secara simbolis dengan prosesi ‘pancung tebu’ yang dimulai pada pukul 14.30 WIB.

Walikota kelahiran Singkawang ini berharap semoga dengan kegiatan ini masyarakat Sigkawang khususnya umat Katolik semakin mendukung program pemerintah kota Singkawang untuk bersama-sama menjaga kebersihan dan keasrian Kota Singkawang.

Walikota Singkawang, Tjhai Chui Mie, S.E, MH

“Jika semua masyarakat kota Singkawang mengurangi penggunaan kantong plastik, saya yakin tahun depan kota Singkawang akan menjadi kota terbersih,”ungkapnya.

Pawai ekologi

Pawai karnaval bernuansa ekologi yang terjadi pada Minggu, 1 September 2019 ini dipusatkan di komplek Persekolahan Suster Singkawang dengan rute perjalanan sebagai berikut; Jl. Pangeran Diponegoro, Jl. Budi Utomo, Jl. Bawal, Jl. Sejahtera, Jl. Pangeran Diponegoro kemudian berakhir di titik kumpul yakni halaman Gereja Paroki St. Fransiskus Assisi Singkawang.

Meski panas terik menyengat, namun tidak menyurutkan semangat para peserta pawai yang terdiri dari dari pelajar, Orang Muda Katolik (OMK), Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI), perwakilan stasi, lingkungan dan lembaga kesehatan rumah sakit.

Antusias para peserta yang mengikuti pawai karnaval ini nampak dalam jumlah peserta yang cukup meningkat dari Tahun-tahun sebelumnya.

Berikut beberapa tanggapan positif para peserta yang sempat kami tanyai terkait perhelatan BKSN 2019.

Tanggapan peserta         

Sr. Lidia SFIC memberi apresiasi atas kegiatan pawai ekologi ini, karena tema yang diangkat dalam BKSN tahun ini sangat relevan untuk menggambarkan situasi kerusakan lingkungan alam Kalimantan Barat khususnya kota Singkawang saat ini yang cukup memprihatinkan.  

“Harapan saya semoga dengan kegiatan BKSN 2019 ini, menjadi wadah edukasi bagi seluruh masyarakat khususnya anak-anak sekolah dan OMK yang menjadi generasi penerus gereja dan bangsa untuk semakin mencintai dan merawat bumi dengan gerakan penghijauan, mengurangi pemakaian kantong plastik, dan membuang sampah pada tempatnya,”ungkap biarawati dan guru SMA St. Ignasius Singkawang.

Sedangkan menurut Rendi, kegiatan BKSN tahun ini memberi pesan moral yang sangat mengena dengan situasi bumi saat ini yang hampir berada diambang kehancuran.

OMK Paroki Singkawang ini mengaku memiliki tugas yang sama yakni turut bertanggungjawab dalam gerakan pembaharuan muka bumi ini dengan aksi nyata seperti gerakan penanaman pohon di lingkungan gereja dan di sekitar rumah atau di hutan yang tandus akibat pembabatan liar dan kebakaran.

Kesan senada juga disampaikan oleh Bapak Tumpakat. Anggota Dewan Paroki Singkawang ini berharap dengan adanya kegiatan ini masyarakat disadarkan akan pentingnya memiliki rasa cinta akan lingkungan. “Semangat sense of belonging perlu ditanamkan dalam hati setiap orang, karena bumi tempat kita berpijak ini merupakan harta yang sangat berharga untuk diwariskan kepada anak cucu kita kelak,”ungkapnya.

Selain pawai karnaval, panitia juga mengadakan ragam kegiatan guna menyemarakan perhelatan BKSN 2019 seperti;

  1. Perlombaan Ekologi
  2. Seminar praktik semiloka tentang lingkungan hidup
  3. Pendalaman Kitab Suci
  4. Perlombaan Mazmur, paduan suara
  5. Lomba Mewarnai
  6. Outbon di Pantai kura-kura Sigkawang

Ketua panitia BKSN 2019, Sumarni S.Ag memberikan keterangan bahwa perlombaan yang akan dilaksanakan sepanjang bulan September ini bertujuan sebagai sarana penyampaian pesan gereja kepada seluruh masyarakat untuk mencintai lingkungan mulai dari diri sendiri, keluarga sampai kepada komunitas besar.

Menurut Pastor Paroki St. Fransiskus Assisi Singkawang, Pastor Stephanus Gathot Purtomo OFMCap, bahwa ajakan untuk merawat ‘Ibu Bumi’ hendaknya menjadi bahan refleksi yang serius untuk direnungkan dan diwujudkan dalam tindakan nyata sepanjang bulan September ini.  

Sesuai dengan tema BKSN 2019 yakni, ‘Mewartakan Kabar Gembira di Tengah Krisis Lingkungan Hidup’ kegiatan ini adalah sebagai perwujudan aksi cinta lingkungan. Bukan hanya sekedar merenungkan, tetapi sungguh-sungguh dipraktekkan dalam tindakan nyata.

Alumni Seminari Mertoyudan ini juga mengajak seluruh umat untuk berkomitmen mau mengurangi kontribusi merusak lingkungan dengan cara pengurangi penggunaan kantong plastik saat berbelanja dan mengurangi konsumsi air mineral dalam kemasan botol.

“Mari kurangi penggunaan kantong plastik saat berbelanja. Bawalah keranjang atau tempat untuk menyimpan belanjaan dari rumah. Dan budayakan membawa botol minuman isi ulang untuk mengurangi penggunaan kemasan botol plastik disposable,”ajak Pastor.

Berbicara dalam homili pada misa pembukaan BKSN 2019, imam anggota ordo Kapusin Provinsi Pontianak ini menerangkan pesan moral berdasarkan permenungan dari Kitab Suci bahwa kerusakan lingkungan secara global yang tengah melanda hampir seluruh permukaan bumi ini tak lain disebabkan oleh keserakahan manusia. Manusia mengingkari jati dirinya sebagai citra Allah yang adalah pemelihara bukan perusak.

Pastor Stephanus Gathot Purtomo OFMCap

“Penyebab utama aksi pengerusakan alam secara massif ini adalah karena manusia menyalahgunakan mandat yang diberikan Allah. Manusia merasa dirinya adalah penguasa alam sehingga berhak untuk mengeksploitasinya,”ungkap Pastor asal Muntilan-JawaTengah. 

Kegiatan pawai ditutup dengan acara ramah tamah di aula Paroki. Semua peserta pawai diundang untuk menikmati suguhan minuman segar dan makanan ringan.

by : Sr. Maria Seba SFIC

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2019 Keuskupan Agung Pontianak